Memandang gerimis hujan
Melalaikan kenyataan
Kesendirian yang kelilingi kedinginan
Keinginan mencari pemilik hati
Wanita makhluk terindah dalam kesunyian
Membekukan hati dan pikiran
Aziz
Dimana?
Dimana sinar hangat mentari yang dulu
Selalu iringi hari...
Memang terkadang panas mentari
Membuat kita terasa tersengat oleh panasnya, tapi...
Tanpanya kini kita merasa dingin,
Menggigil, beku dan...
Mungkin mati....
-CSS-
Di Naung Cahaya
Ia bersinar di setiap langit suasana
Yang pendar dalam naungan Sang Maha Bercahaya
Sayang tak kau dengar nyanyinya di sorga
Tapi cobalah simak, lalu turutlah iramanya dalam doa
Tidak, bukan tangisnya
Tapi tangis kita yang derai dalam hujan
Kita yang tak usai juga mengurai rahasia
Yang terselip di setiap lembar catatan peristiwa
Maka kenangkanlah saja
Betapa kita pernah begitu berharap
Dan bersaksilah bahwa yang tiba
Adalah sesuatu yang telah genap
Takkan ia berganti warna pun rupa
Seperti kenangan akan abadi
Tak usah juga ia jadi bidadari
Antara tujuh puluh dua yang kan jadi milik laki-laki
Karena perempuan kecil kita
Ialah kanak-kanak yang selamanya suci
Fragmen Penciptaan
Di kamar rumah sewa ini,
Tanpa setahu kita
Tuhan telah meniup nyawa barangkali
Saat kita lelap bermimpi
-Wirawan-
Saat sang surya menatap kakinya
Peluhku / mengalirpun, turun ikuti jejaknya
Lirih / menyuarakan rasa yang masih berkecamuk
Angankan sebuah perdamaian
Meraung / mencoba wujudkan daya yang tersimpan
Benar... tampak begitu pasti lewati lekuk terjal padas
Dan kerikil-kerikil liar
Teguh berdiri seperti karang
Tiada gentar menahan hempas gelombang
Enggan rubuhkan cita sebelum pertarungan
Usai meregang nyawa
Ya... bukan hanya raga
Jiwa-jiwa berbisikpun seakan isyaratkan rasa
Tuk tetap menampakan asaku lalui semua
Demi sebuah mimpi yang telah terukir dalam
Pusara hati
-Syidan-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar