Teman dalam Komputer
Kau berlari-lari dalam monitor yang tak lagi bening
Bergumul dengan ribuan mimpi-mimpi yang tercecer
Dari sekian panjang perjalanan yang kau lalui
Aku mencoba memaknai segala prasangka yang coba kau eja dengan kata
Kau bilang “iya, jarak dan waktu bukan variabel yang membuat dunia kita sunyi”
Kau ini sekumpulan reranting yang ku coba kumpulkan demi sebuah perapian
dan bakal ku sulut di suatu ketika
Lalu kita terjebak kata-kata, berjejalan dalam file-file yang suatu saat nanti tersimpan dan akan kita buka.
Fragmen Menunggu
Panjang. Kian dekat aku kian terperanjat
Inikah cerita perjalanan kita?
Kau berhenti pada suatu pemberhentian, aku pun begitu
Dan di hadapan kita lelehan besi panjang itu akan sama-sama kita lalui
Gerbong itu, kotak-kotak seakan memisahkan perjalanan kita
yang sampai suatu waktu entah kapan akan sama-sama bertemu di ujungnya
di suatu pemberhentian dan kita akan sama-sama bilang
“kita sama-sama lelah!”
Memoar Pepohonan
Pohon sukun itu, Bapak, menancap erat pada wewangian tanah kita
Tanah yang Bapak gempur dengan lelehan di dahi sekujur dada serta punggung mu
Teduhnya, yang buat kita terkantuk-kantuk dalam sunyi
Dan buahnya, seperti yang kau katakan “tak ada biji, dan kau tak dapat menanamnya kembali esok hari”
Tapi bu guru bilang, akarnya bisa kita ambil dan pendam untuk menjadi sebuah pohon.
Mana yang benar, Bapak?
Jika salah satunya benar, kenapa tak ada lagi barang sepotong untuk kita goreng sore ini?
Apa tanah kita tak lagi wangi?
Kisah Kita
Zaman merajut cerita pada kita tertunduk lemas tak berdaya
Jalanan kita tak lagi berbatu
Kini ditopang serpihan baja yangh kita sendiri sulit tuk lampauinya
Mana Si Ahmad yang dulu pandai memancing?
Mana Si Abu yang dulu senang bersarang dengan cericit burungnya?
Zaman tak lagi berkawan dengan kita kini
Karena asap bekas dari para penguasa barangkali
Atau karna wewangian dari cerobong televisi yang hadir tanpa henti
Sudahlah, tak perlu tangisi kepergian kawan kita
Yang pulang dengan arak-arak polisi dan tak perlulah kau menjerit-jerit tatkala adik-adik kita bermain - main dalam monitor tak berkabel.
Pada Sebuah Rindu
Langit merah, mengusung bongkahan rindu yang kian menghimpit
Ia yang sediakala kelam dan menghitam melegam
Disongsong cahya memerah pada fajar pagi yang menyergap
Darahmu yang panas bergemuruh, meski sesekali angin menyusup di sela-sela pori kulitmu yang hampir sama dengan poriku
Kita tiada mengenal, tapi mengapa saling mencinta?
Adakah bonglahan rindu itu adalah dosa?
Bukan, ricik angan kita tercipta pada suatu ketika yang kita sendiri tak menyadarinya?
Maka songsonglah cahya memerah itu, pada kesunyian pagimu yang tak kan terenggut oleh siapapun.
Yang tak kau beri tahu
_Untuk Djokja_
Bahkan aku pun tiada kau beri tahu mengapa langitmu kian membiru
Bukan karena awanmu yang berganti
Melainkan asap penghunimu yang buatku semakin pengap
Kau bahkan tak akan pernah beri tahu aku kenapa airmu kau biarkan asyik bermain dengan warna-warni jajanan kaleng yang dimainkan adik-adik kita
Dan kenapa pula kau biarkan kokoh jalanan bercengkerama bersama riuhnya deretan panjang mesin-mesin pemanja manusia;
Langitku, langitmu tak lagi riuh
Ia riuh hanya untuk menyenangkan kita, bahwa dunia masih bisa tertawa
hanya dengan celoteh yang kita buat bersama-sama.
ARIE -Februari 2009-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar