Kamis, 05 Februari 2009

Teman dalam komputer

Teman dalam Komputer

Kau berlari-lari dalam monitor yang tak lagi bening

Bergumul dengan ribuan mimpi-mimpi yang tercecer

Dari sekian panjang perjalanan yang kau lalui

Aku mencoba memaknai segala prasangka yang coba kau eja dengan kata

Kau bilang “iya, jarak dan waktu bukan variabel yang membuat dunia kita sunyi”

Kau ini sekumpulan reranting yang ku coba kumpulkan demi sebuah perapian

dan bakal ku sulut di suatu ketika

Lalu kita terjebak kata-kata, berjejalan dalam file-file yang suatu saat nanti tersimpan dan akan kita buka.


Fragmen Menunggu

Panjang. Kian dekat aku kian terperanjat

Inikah cerita perjalanan kita?

Kau berhenti pada suatu pemberhentian, aku pun begitu

Dan di hadapan kita lelehan besi panjang itu akan sama-sama kita lalui

Gerbong itu, kotak-kotak seakan memisahkan perjalanan kita

yang sampai suatu waktu entah kapan akan sama-sama bertemu di ujungnya

di suatu pemberhentian dan kita akan sama-sama bilang

“kita sama-sama lelah!”


Memoar Pepohonan

Pohon sukun itu, Bapak, menancap erat pada wewangian tanah kita

Tanah yang Bapak gempur dengan lelehan di dahi sekujur dada serta punggung mu

Teduhnya, yang buat kita terkantuk-kantuk dalam sunyi

Dan buahnya, seperti yang kau katakan “tak ada biji, dan kau tak dapat menanamnya kembali esok hari”

Tapi bu guru bilang, akarnya bisa kita ambil dan pendam untuk menjadi sebuah pohon.

Mana yang benar, Bapak?

Jika salah satunya benar, kenapa tak ada lagi barang sepotong untuk kita goreng sore ini?

Apa tanah kita tak lagi wangi?


Kisah Kita

Zaman merajut cerita pada kita tertunduk lemas tak berdaya

Jalanan kita tak lagi berbatu

Kini ditopang serpihan baja yangh kita sendiri sulit tuk lampauinya

Mana Si Ahmad yang dulu pandai memancing?

Mana Si Abu yang dulu senang bersarang dengan cericit burungnya?

Zaman tak lagi berkawan dengan kita kini

Karena asap bekas dari para penguasa barangkali

Atau karna wewangian dari cerobong televisi yang hadir tanpa henti

Sudahlah, tak perlu tangisi kepergian kawan kita

Yang pulang dengan arak-arak polisi dan tak perlulah kau menjerit-jerit tatkala adik-adik kita bermain - main dalam monitor tak berkabel.


Pada Sebuah Rindu

Langit merah, mengusung bongkahan rindu yang kian menghimpit

Ia yang sediakala kelam dan menghitam melegam

Disongsong cahya memerah pada fajar pagi yang menyergap

Darahmu yang panas bergemuruh, meski sesekali angin menyusup di sela-sela pori kulitmu yang hampir sama dengan poriku

Kita tiada mengenal, tapi mengapa saling mencinta?

Adakah bonglahan rindu itu adalah dosa?

Bukan, ricik angan kita tercipta pada suatu ketika yang kita sendiri tak menyadarinya?

Maka songsonglah cahya memerah itu, pada kesunyian pagimu yang tak kan terenggut oleh siapapun.


Yang tak kau beri tahu

_Untuk Djokja_

Bahkan aku pun tiada kau beri tahu mengapa langitmu kian membiru

Bukan karena awanmu yang berganti

Melainkan asap penghunimu yang buatku semakin pengap

Kau bahkan tak akan pernah beri tahu aku kenapa airmu kau biarkan asyik bermain dengan warna-warni jajanan kaleng yang dimainkan adik-adik kita

Dan kenapa pula kau biarkan kokoh jalanan bercengkerama bersama riuhnya deretan panjang mesin-mesin pemanja manusia;

Langitku, langitmu tak lagi riuh

Ia riuh hanya untuk menyenangkan kita, bahwa dunia masih bisa tertawa

hanya dengan celoteh yang kita buat bersama-sama.

ARIE -Februari 2009-

Tidak ada komentar: