Minggu, 30 November 2008

Fragmen pendek di atas deru mesin
Inilah fragmen pendek yang rasanya enggan untuk diceritakan. Memiris pilu setiap wajah yang menyaksikan. Lelaki tuna rungu meminta sumbangan lewat selebaran dan dibagi-bagikan -dua orang adikku butuh biaya untuk sekolah- katanya. Nenek tua berjalan gontai menengadahkan tangan. Diiringi dua bocah lusuh bernyanyi sumbang. Seorang tua cacat kaki mengesotkan tubuhnya sambil mendendangkan sebuah puisi. Datang lagi orang gila bermata garang, membelalakkan mata, meminta rokok kepada para penumpang.
Masih di tempat yang sama,
Mesin menderu. Kondektur mengecek karcis penumpang yang baru saja datang. Masih saja ia terima uang penumpang yang masuk tanpa karcis. Cermin korupsi di negeri ini. Musik bercampur-campur. Mesin mengiringi suara-suara pemusik jalanan yang sedari tadi bernyanyi tanpa nada yang pasti.
Mata saling menatap. Tatapan saling beradu. Ada saja yang terpikir.
Yogyakarta,
Masih adakah ruang yang tersisa untukku? Sejak tiga tahun yang lalu aku tinggalkan mimpiku, dan ku buang kenangan untuk meraih megahmu. Tapi sama saja, gedung-gedung menghalangi pandangan. Jalan rebah ditimbuni sampah. Kali-kali masih asyik dibuat mencuci dan mandi. Sementara mobil merci asyik berenang tanpa dosa di atasnya.
Tanah kelahiran,
Masihkah tersisa untukku kenangan yang dulu aku tinggalkan? Aroma tanah masih sama, orang-orang belum ada yang berbeda. Tapi kenapa, nestapa masih hantuinya?

14 maret 2008

Tidak ada komentar: