Hujan di kamar tidurku
Ada hujan dalam kamarku. Ia membanjiri hampir sebagian ruangan. Tempat tidur, rak buku, kursi, kardus-kardus dan almari, hampir semuanya tergenang. Aku tak pernah habis pikir, kenapa ia datang dan menyebarkan kekacauan. Lantaiku sama sekali kotor. Aku gunakan saja Koran bekas untuk menutupinya, karena memang tak ada kain pel untuk sekedar mengeringkannya.
Hujan terus mengalir di kamar. Aku tengok atapnya, sama sekali tak bocor. Lubangnya pun tak ada yang menganga. Ah, apa gerangan yang membuat hujan betah bersemayam di sana?
Senja yang enggan tinggal
Senja itu enggan tinggal lama-lama. Untuk sekedar nongkrong dan berbagi sapa pun tak mau. Aku pun jadi malas ketika sore menjelang. Seusai petang aku merenung di taman. Sekedar mengajak malam berdiskusi layaknya para petinggi di atas sana. Untuk sementara senja kita pindahkan ke pagi saja, katanya. Atau biar malam yang bertukar waktu dengannya?
;Aku tak setuju!
Senja tak pernah jujur kenapa sekarang enggan tinggal, ia Cuma bilang kenapa waktu tak adil menaruhku di waktu yang tak seberapa.
Jam 8 pagi.
Jam 8 pagi. Sudah siang. Tiap harinya aku bangun pada jam ini. Karena bangun pada jam ini, aku tak pernah lihat matahari nongol. Lihat warnanya yang seksi pun tak pernah. Lama-lama aku jadi benci terbitnya mentari. Enggan merasakan hangatnya raja siang di pagi hari, yang kata orang, bisa membuat kulit jadi sehat karena mengandung vitamin E. Ah, bullshit amat!
Bangun jam 8 punya nikmat tersendiri. Mimpiku jadi dua ronde. Ketika malam aku mimpi buruk, maka dini hari mimpiku berubah jadi mimpi indah.
Jam 8 pagi. Sarapan sudah tersaji. Kamar mandi sudah tak ada yang terisi. Tinggal menenenteng handuk lalu bersihkan diri. Jika ada yang mampu merubah jam 8 menjadi lebih indah, mungkin aku akan memilihnya sebagai waktu bangunku tiap harinya.
Cerita juli
Juli itu jahat,
Juli itu pengkhianat
Juli itu tak mengerti bagaimana rasanya tersakiti
Juli itu meluap menjadi genangan air mata
Meresap jadi sesak di dada
Juli itu beku,
Dinginnnya serupa dingin hati yang tak tahu balas budi….
25-07-08
Sebuah persembahan
: Untuk semua yang membuatku ada
Apalah yang dapat aku berikan,
Pada negeri
Pada tanah kelahiran
Pada dunia yang hampir porak poranda
Juga pada ayah bunda yang telah titiskan nyawanya
Apalagi yang bisa aku suguhkan,
Tuk benahi bangsaku yang koyak
Yang mau berbagi sesuap nasi dengan luar negeri
Yang rela hartanya habis dikorupsi para petinggi,
Barangkali akan ada secercah cahya
Untuk cerahkan kalbu-kalbu yang telah mati
Barangkali pula akan ada malaikat yang menuntunku
Membukakan jalan demi lapangnya pikiran
Membenahi kesalahan yang telah dilakukan,
Aku cuma bisa berteriak ”Aku Bisa”
Demi apa dan siapa yang telah membuatku ada.
Tuesday, 190808
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar