Sabtu, 22 Maret 2008

Gadis Kecilku,

Gadis kecil itu berlari kesana kemari tanpa menghiraukan bajunya sudah basah peluh. Sesekali ia melihatku, tersenyum, lalu membenamkan kembali dirinya berlari dengan teman sebayanya. Gadis kecilku, sering terlintas pertanyaan di kepalaku pada Tuhan. Akankah Ia tak memberikan rasa lelah padamu? Nak, isirahtlah! Kau sudah seharian bermain bersama mereka di lapangan itu. Andai saja bias, sepertinya aku tak ingin kau beranjak dewasa. Aku ingin kau tetap menjadi gadis kecilku. Tapi aku tak sanggup menentang kakuasaan Tuhan.

Kau kini cantik sekali, nak. Bahkan sangat cantik. Wajahmu terlihat tegang menunggu jawaban dariku untuk kepastian itu. Jujur aku sangat berat melepaskanmu. Bahkan untuk saat itu juga, ketika ada seorang yang begitu mencintaimu, dan kau juga sangat mencintainya. Tapi begitu egoisnya aku membiarkan kau tersiksa karena keegoisanku. Dengan segenap hati, akhirnya aku berkata ‘ya’. Kau begitu gembira, sampai-sampai kau memelukku erat, lama sekali. Kita tenggelam dalam isak bahagia. ‘Andaikan ibumu masih ada di sini’.

Sesaat ku tercenung, siapa gadis cantik yang sedang menghampiriku ini? Oh, ternyata kau gadis kecilku yang kini sudah beranjak dewasa. Kau begitu cantik dengan kebaya putih itu, nak. Kau memelukku, sambil menitikkan airmata. ‘Sudahlah, nak. Nanti riasaanmu luntur’ ucapku lirih. ‘Terima kasih ayah, aku sayang ayah’

Oleh : bungaku

Tidak ada komentar: