Sabtu, 22 Maret 2008

REMEMBER 26/12/2004

Ada genangan dalam garis angin

menderu pada pucuk tangis kita

mengena di setiap hati

ketika gelombang marah pada lautan

dan ombak yang padam setelah

memuntahkan rasa mual

karena sudah terlalu banyak, TUAN!?!!

Engkau memasukan berjejal suapan

Dari sisa sisa yang kau makan

Sudah terlalu banyak, TUAN!?!!

kau jadikan perut negeri ini

tempat sampah dari kotoranMU

yang berisi cacing cacing pengkhianatan

menggerogoti lambung kami, yang tak

pantas lagi dasebut lambung milik kami

sudah terlalu banyak, TUAN!?!!

Luka kami kau tambal dengan sulaman

kemunafikan

dengan benang teratas nama cinta

kau sulut hati kami dengan duka

NEGERI INI MASIH BERUPA BENCANA

HAI PARA PENGUASA

Bopeng bopeng kami masih mengalirkan darah

bahkan kini hati hati kami

bernanah

Lalu kenapa masih kau tusuk juga

dengan ceracah liar

di tempat seharusnya kami

memperoleh pengakuan

Indonesiaku telah menjadi remah

Dalam nampan penuh roti

mengecil dalam kebesaran nama

Ibu pertiwi

Ada tetes pada garis luka Bunda

Bukan lagi air mata

namun anyirdengan merah jelaga

hanya do’a do’a

anak yang tertinggalkan

telah mengubah senja agar

pagi menyanding asa

2005

Tidak ada komentar: