menderu pada pucuk tangis kita
mengena di setiap hati
ketika gelombang marah pada lautan
dan ombak yang padam setelah
memuntahkan rasa mual
karena sudah terlalu banyak, TUAN!?!!
Engkau memasukan berjejal suapan
Dari sisa sisa yang kau makan
Sudah terlalu banyak, TUAN!?!!
kau jadikan perut negeri ini
tempat sampah dari kotoranMU
yang berisi cacing cacing pengkhianatan
menggerogoti lambung kami, yang tak
pantas lagi dasebut lambung milik kami
sudah terlalu banyak, TUAN!?!!
Luka kami kau tambal dengan sulaman
kemunafikan
dengan benang teratas nama cinta
kau sulut hati kami dengan duka
NEGERI INI MASIH BERUPA BENCANA
HAI
Bopeng bopeng kami masih mengalirkan darah
bahkan kini hati hati kami
bernanah
Lalu kenapa masih kau tusuk juga
dengan ceracah liar
di tempat seharusnya kami
memperoleh pengakuan
Indonesiaku telah menjadi remah
Dalam nampan penuh roti
mengecil dalam kebesaran nama
Ibu pertiwi
Bukan lagi air mata
namun anyirdengan merah jelaga
hanya do’a do’a
anak yang tertinggalkan
telah mengubah senja agar
pagi menyanding asa
2005

Tidak ada komentar:
Posting Komentar