Kau sandarkan waktumu di pundaknya
Saat pori-pori berair menganyir
dan lelah kita tak sendiri
Pagar masih terdiam
Kau tetap sandarkan waktumu di pundaknya
Manakala perjanjian demi perjanjian
menderas kemudian mengeras
Semua terpaku
begitupun pepohonan
Kau masih saja sandarkan waktu di pundaknya
hingga pergantian hari berlalu laksana cahaya
Debu hampir membentuk bukit
dan jemarimu tak bangkit
Ladang mulai kering
Udara mulai singup
Kau tak tergugup
Mungkin benar kita harus persiapkan
pemakaman untuk sendiri
Namun, untuk itupun kau telah tusuk matamu
Bdee, 1 Juni 05

Tidak ada komentar:
Posting Komentar