Sabtu, 22 Maret 2008

Shinta Menang, Sita Malang


Kau sandarkan waktumu di pundaknya

Saat pori-pori berair menganyir

dan lelah kita tak sendiri

Pagar masih terdiam

Kau tetap sandarkan waktumu di pundaknya

Manakala perjanjian demi perjanjian

menderas kemudian mengeras

Semua terpaku

begitupun pepohonan

Kau masih saja sandarkan waktu di pundaknya

hingga pergantian hari berlalu laksana cahaya

Debu hampir membentuk bukit

dan jemarimu tak bangkit

Ladang mulai kering

Udara mulai singup

Kau tak tergugup

Mungkin benar kita harus persiapkan

pemakaman untuk sendiri

Namun, untuk itupun kau telah tusuk matamu

Bdee, 1 Juni 05

Tidak ada komentar: